Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum nonaktif Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin terpilih sebagai calon wakil presiden pendamping Jokowi dalam Pilpres 2019. Dalam kesempatan wawancara khusus dengan tim Liputan6, Ma'ruf Amin mengungkap
Berikut ini petikan wawancara khusus dengan Ma'ruf Amin:
Pada 2014 Jokowi tidak mendulang suara terlalu banyak di Banten. Sebagai orang asli Banten apa kah optimis tahun ini bisa memberikan dukungan suara yang lebih?
Sangat optimis ya. Bagi masyarakat Banten, tentu dipilihnya saya sebagai calon wakil presiden, itu membuat mereka sangat berterima kasih.
Di kantong-kantong mana saja yang kira-kira sudah dilihat dan ini akan memberikan suara yang besar untuk pasangan nomor urut 01?
Ya, karena dulu memang agak jauh ketinggalan, jadi memang kita langsung menggenjot, dan sekarang sudah semua rata. Itu sudah di atas. Bahkan ada kabupaten-kabupaten yang jauh tinggi ya. Lebak itu sudah 63%, Pandeglang sudah 54%. Karena itu saya berharap banten minimal 70% lah kira-kira.
Apakah dengan terpilihnya Pak Kiai ini juga mematahkan stigma yang selama ini beredar bahwa Jokowi ini anti-Islam?
Ya, saya kita itu kan karena gorengan-gorengan saja, karena medsos saja. Sebenarnya Jokowi memang tidak anti-Islam, tidak antiulama.
Bicara soal umat muslim, apakah Pak Kiai mungkin ada rencana bagaimana cara meyakinakan umat muslim agar memilih pasangan nomor urut 01?
Iya, karena saya kan, bahwa negara ini final, bahwa negara ini majemuk, karena itu harus dijaga kemajemukan itu. Nah, persaudaraan yang universal ini yang ingin kita jaga. Apalagi di tingkat nasional. Karena itu maka saya itu mengunjungi mereka.
Saya kan ke Sumut, ke Balige saya. Saya ke Tarutung, Saya ke HKBP terus. Ya saya bicara di sana, di depan pendeta-pendeta HKBP seluruh Indonesia, kebetulan ada Raker di sana, rapat kerja. Saya mengemukakan, untuk pilpres sebenarnya tidak menambah suara. Di sana itu udah 90% Jokowi lah. Tapi mereka ingin tahu visi saya, gitu. Dan mereka welcome.
Kabarnya yang tertarik sama sosok Pak Ma'ruf Amin ini bukan hanya masyarakat di Balige misalnya, atau di Tarutung misalnya, tetapi juga pendukung Ahok, betul kah?
Ya, saya bilang, Waktu itu kan sudah masa lalu. sudah selesai tidak ada masalah, sudah kelar. Sekarang ini kan kita sudah harus justru memabangun keutuhan bangsa ini. Ya siapapun dia. Jadi soal Ahok itu soal penegakan hukum. Bukan soal dia nonmuslim. Bukan dia etnis tertentu, bukan. Tidak ada hubungannya.
Ya jadi tanda itu etnis kita, kita sudah sepakat, bahwa negara ini egara yang majemuk, yang bhineka, yang harus kita jaga. Tidak boleh ada perlakuan diskriminatif pada pihak manapun. Dan ini yang saya kira harus kita jaga pada pihak manapun.