:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1766434/original/055530900_1510306524-496349694.jpg)
Liputan6.com, Washington DC - Pada Ramadan tahun ini, masyarakat muslim di Amerika Serikat melaksanakan ibadah puasa di tengah-tengah musim semi. Durasi berpuasa rata-rata mendekati 16 jam setiap harinya. Sejumlah persiapan pun dilakukan, baik fisik maupun mental.
Jam puasa yang panjang di Amerika Serikat menjadi tantangan tersendiri bagi sejumlah muslim asal Indonesia, khususnya mereka yang baru pertama kali menjalani Ramadan di Negeri Paman Sam. Mengingat, itu artinya ibadah salat tarawih juga akan berlangsung lebih malam dari pada di Indonesia.
Hasna Fadhilah merasakan salat tarawih agak larut, sebagaimana dilansir dari VOA Indonesia pada Senin (20/5/2019). Hal itu karena waktu magrib saja sekitar pukul 8 malam di Washington DC. Dosen IPDN Jatinagor yang sedang menjalani fellowship dengan Religious Freedom Institute itu merasa takut untuk menjalankan salat tarawih, karena berakhir pukul 10-11 malam.
"Dengan kondisi ini, kadang saya khawatir untuk pergi, namun kemudian di hari ke-dua tarawih, dari komunitas masjid banyak yang menawarkan tumpangan ke rumah," kata Hasna Fadhilah.
Sementara itu, Irwan Saputra tidak pernah khawatir akan waktu puasa Ramadan yang bisa mencapai 16 jam. Mahasiswa yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden di Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS (Permias DC) itu melaksanakan salat tarawih malam pertama Ramadan di IMAAM Center, Maryland.
"Namun karena lokasi yang sangat jauh, malam selanjutnya saya salat di apartemen dengan kawan yang juga muslim, dari Afghanistan. Saya selalu jadi imam di salat kami," kata Iwan.
http://bit.ly/2WfjgyD
May 20, 2019 at 09:20PM from Berita Terkini, Kabar Terbaru Hari Ini Indonesia dan Dunia - Liputan6.com http://bit.ly/2WfjgyD
via IFTTT
No comments:
Post a Comment